Sambutan dan Khotbah

SAMBUTAN DAN KHOTBAH

Sambutan sering pula disebut dengan pidato penerimaan. Dalam hal ini pembicara menyambut (gembira) atas pelaksanaan suatu kegiatan atau acara. Misalnya, OSIS mengadakan pentas seni dalam rangka mengisi ulang tahun sekolah. Pada awal kegiatan itu, biasanya dilangsungkan pidato pembukaan yang salah satunya adalah sambutan-sambutan. Pidato ini pada umumnya disampaikan oleh seorang pejabat atau pimpinan terkait.

Sambutan biasanya terdiri atas bagian-bagian berikut:

  1. Ucapan terima kasih kepada pembawa acara dan kepada panitia penyelenggara
  2. Penyampaian ungkapan kegembiraan, pujian, dan dukungan atas terselenggaranya kegiatan
  3. Pernyataan harapan untuk meneruskan kegiatan di masa datang dan harapan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan
  4. Ucapan selamat kepada panitia atau peserta kegiatan

Semua bagian-bagian itu tidak sama antara sambutan yang satu dengan sambutan yang lain, baik dalam hal jenis ataupun susunannya. Namun sambutan tidak lepas dari penyampaian ungkapan kegembiraan, pujian dan dukungan. Disamping pula muncul kritikan-kritikan pada kegiatan yang disambutinya.

Khotbah termasuk ke dalam jenis pidato. Hanya saja berbeda dengan pidato-pidato pada umumnya, khotbah terkenal dengan bentuk pidato yang penyampaian ajaran agama. Oleh karena itu, jenis pidato yang satu ini lebih dikenal ditempat-tempat keagamaan seperti masjid atau gereja.

Cirri-ciri khotbah:

  1. Banyak menggunakan istilah-istilah keagamaan
  2. Banyak mengutip ayat-ayat dari kitab suci
  3. Menguraikan kisah nabi, rasul atau orang-orang suci
  4. Berisikan ajakan untuk beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Mahakuasa

Sistematika sambutan :

  1. Pembukaan sambutan / khotbah meliputi:

1) ucapan puji syukur,
2) ucapan terima kasih, dan
3) tujuan.

B.    Isi sambutan / khotbah  meliputi:
1) latar belakang materi atau permasalahan,
2) uraian materi pokok.

C.    Penutup sambutan / khotbah  meliputi:
1) kesimpulan,
2) harapan-harapan,
3) permohonan maaf, dan
4) permohonan doa restu.

Metode pidato yang dapat dipakai:

  1. Metode impromptu (serta merta), yaitu metode yang digunakan pembicara secara spontanitas (improvisasi). Metode ini digunakan untuk pidato yang sifatnya mendadak. Biasanya yang menggunakan metode ini adalah orang yang sudah terbiasa berpidato (berpengalaman) karena membutuhkan wawasan atau pengetahuan yang luas.
  2. Metode menghafal, yaitu pembicara membuat teks untuk dihafal. Maksudnya isi pidato yang disampaikan berdasarkan hafalan.
  3. Metode naskah, yaitu pembicara membaca naskah yang telah dipersiapkan sebelumnya (berpidato membawa naskah)
  4. Metode ekstemporan, yaitu materi yang akan disampaikan dipersiapkan dalam bentuk kerangka pidato terlebih dahulu, kemudian dikembangkan atau disampaikan dalam pidato.

Mencatat Pokok-pokok Isi Pidato

Dalam menulis pokok-pokok isi pidato dibutuhkan kecermatan menyimak yang baik. Untuk memudahkannya buatlah pertanyaan sebagai pemandunya. Contohnya, Apa bedanya perpustakaan yang dulu dan perpustakaan yang diresmikan penggunaannya itu?, Mengapa kepala sekolah berterima kasih kepada orang tua siswa? Dsb.. selanjutnya tulislah pokok-pokok isi pidato dengan kalimat yang singkat tetapi lengkap.

Menyampaikan Ringkasan

Dalam menyampaikan ringkasan isi pidato boleh menggunakan bahasa sendiri. Artinya, kalimat-kalimat yang disampaikan tidak harus sama dengan pidato tersebut. Menyampaikan ringkasan isi pidato hendaknya dilakukan dengan suara lantang dan intonasi yang tepat. Berlakulah seolah-olah sedang berpidato.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: